Hal terberat dalam hidup ini adalah ketika kita dihadapkan pada suatu "PiLihan" yang timbangan kebaikannya hampir sama. Mana yang akan menjadi pilihan terbaik? Mana yang akan lebih memberi manfaat?
Kadang kita harus berani mengambil resiko. Mengorbankan apa yang sebenarnya menjadi keinginan kita. kita tidak bisa mengambil keduanya. Dilema. Ya, itulah yang terjadi. Terkadang kita tidak tahu mana yang sebenarnya terbaik untuk kita. Kadang kita terjebak pada pilihan yang sebenarnya kurang memberi manfaat bijaksana. Semuanya baik, namun ada salah satu yang lebih baik.Tidak keduanya, tapi salah satu...
Disatu sisi, aku tak ingin melihat orang tuaku bersusah payah, diatas genting disiang yang terik dengan kucuran keringat. Memasang atap-atap yang tinggi. Bergelantungan pada tangga-tangga yang menjulang tinggi, memasang plavon dengan benda-benda berat yang dipegangnya. Tak ingin juga mendengar cerita seorang ibu yang rela terjaga di pagi, siang, dan malam. Melayani juragan yang minta makan ditengah malam, atau dipagi buta. Menjaga nenek renta, dan anak majikan yang manja. Minta ini, minta itu. Nyonya bawel yang bentak sana bentak sini. Ah... Aku tak tega melihat mereka banting tulang, bersusah payah demi sepeser rupiah yang dikumpulkan untukku. Aku ingin kerja! Ingin meringankan beban mereka. Itulah pilihan pertamaku.
Disisi lain, aku adalah seorang mahasiswi yang suka berorganisasi. Ingin selalu berkreasi, mengembangkan potensi, dan ingin terus belajar. Ingin diri ini mengabdi, ikut serta dalam memperjuangkan almamater. Ingin sekali diri ini tetap bersama kalian, berjuang bersama demi tujuan dan cita-cita bersama. Itulah pilihan keduaku..
Sahabat seperjuanganku, yang kini menjadi wakil dari mahasiswa sekampus yang kita banggakan. Sahabatku yang sekaligus Presidenku didalam kabinet yang belum terbentuk namanya... Terimakasih karena engkau berusaha mempertahankanku untuk tetap meneruskan perjuangan dalam membesarkan kampus kita. Aku terharu karena engkau tetap memintaku meski batas waktu itu telah berlalu. Aku tahu, engkau menaruh harapan besar agar sahabatmu ini tetap disampingmu. Berjalan bersama dan berjuang bersama didalam organisasi yang telah membesarkan kita. Aku juga ingin sekali...
Namun kakak presidenku, Aku harus mengambil salah satu yang menjadi jalanku. Aku harus memilihnya....
ketika aku tetap melanjutkan organisasi ini, kemudian ditengah-tengah nanti aku meninggalkanmu karena aku membagi waktu antara kuliah, membantu orang tua dan juga organisasi ini, maka egois sekali aku? Jika seperti itu, bisa juga dikatakan pengkhianatan dan meninggalkan tugas&tanggung jawab yang di emban. Aku takut mengecewakanmu sahabatku....
Biarlah tunas-tunas baru yang mengisi foto-foto dalam bagan kepengurusan itu. Biarkanlah mereka yang berjuang bersamamu, mencapai cita-cita bersama... Biarkanlah mereka yang lebih berkomitmen tinggi berjuang bersama dan meraih apa yang dicita-citakan....
Selamat berjuang kawanku, rekan pramukaku, sekaligus presidenku...
Semoga sukses....
Kampus ini akan berkibar ditanganmu!